{"id":332465,"date":"2026-08-14T07:00:00","date_gmt":"2026-08-14T00:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/labiba.id\/up\/?p=332465"},"modified":"2026-08-14T02:14:58","modified_gmt":"2026-08-13T19:14:58","slug":"perluasan-vaksin-hpv-anak-laki-laki-indonesia-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/labiba.id\/up\/perluasan-vaksin-hpv-anak-laki-laki-indonesia-2026\/","title":{"rendered":"Vaksin HPV Tak Lagi Hanya untuk Anak Perempuan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jakarta<\/strong>&nbsp;&#8211; Pemerintah mulai memperluas imunisasi Human Papillomavirus (HPV) kepada anak laki-laki melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Agustus 2026. Namun, perluasan tahap awal baru dilakukan di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali, sehingga pemerataan akses serta kesiapan layanan menjadi isu penting dalam pengembangan program ke wilayah lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebijakan tersebut menyasar anak laki-laki kelas 5 SD atau sederajat, sekitar usia 11 tahun, sebagai bagian dari perluasan program imunisasi HPV yang sebelumnya berfokus pada anak perempuan. Pemberian pada usia dini ditujukan untuk membangun perlindungan sebelum kemungkinan terpapar HPV pada usia berikutnya. Program dilaksanakan melalui BIAS, yang setiap tahun menjadi jalur imunisasi bagi anak usia sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI dr. Indri Yogyaswari, MARS, menjelaskan perluasan kepada anak laki-laki akan dilakukan secara bertahap. Setelah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali pada 2026, pemerintah merencanakan penambahan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten pada 2027, kemudian Jawa Timur pada 2028.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahapan tersebut menandai perubahan penting dalam strategi pencegahan penyakit akibat HPV. Infeksi virus ini selama ini banyak dikaitkan dengan kanker serviks pada perempuan, padahal HPV juga dapat menginfeksi laki-laki dan berkaitan dengan sejumlah penyakit. Dengan memperluas sasaran, pencegahan tidak lagi hanya bertumpu pada imunisasi perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebijakan itu juga berjalan ketika capaian imunisasi HPV pada kelompok sasaran perempuan menunjukkan perkembangan. Indri menyebut cakupan imunisasi HPV pada 2025 telah mencapai 90,9 persen, didukung perubahan kebijakan menjadi satu dosis bagi anak perempuan usia 11 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim dengan target 90% imunisasi HPV, 75% skrining, dan 90% tata laksana kanker pada tahun 2030,\u201d kata Indri dalam kegiatan edukasi tenaga kesehatan mengenai eliminasi kanker serviks pada Juli 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Target tersebut menunjukkan vaksinasi merupakan satu bagian dari strategi yang lebih luas. Upaya menekan beban kanker serviks juga membutuhkan skrining untuk menemukan perubahan prakanker dan memastikan pasien yang terdiagnosis memperoleh tata laksana. Dengan demikian, peningkatan cakupan vaksin tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran keberhasilan eliminasi kanker serviks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persiapan vaksinasi anak laki-laki juga dilakukan di tingkat daerah. Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada 14 Juli 2026 menggelar edukasi bagi tenaga kesehatan di Gedung PK3D, Jakarta Pusat, menjelang pelaksanaan program. Kegiatan itu melibatkan rumah sakit, puskesmas, suku dinas kesehatan, organisasi profesi, serta sejumlah pemangku kepentingan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Savitri Handayana mengatakan vaksinasi diarahkan agar anak memperoleh kekebalan sebelum memasuki usia dengan risiko paparan HPV yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTentu kita harapkan dengan pertemuan pada pagi hari ini, vaksinasi yang kita target untuk anak laki-laki sebelum mencapai batas aktivasi seksualnya, terutama untuk rentang usia di bawah 15 tahun, sehingga sudah memiliki kekebalan terhadap tubuhnya dari virus HPV,\u201d ujar Savitri dalam kegiatan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilihan tiga provinsi sebagai tahap awal sekaligus memunculkan persoalan pemerataan. Manfaat perluasan vaksinasi akan bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga cakupan pada kelompok sasaran yang sudah ada sekaligus menyediakan vaksin, tenaga kesehatan, pencatatan, komunikasi risiko, dan pembiayaan ketika program diperluas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertimbangan tersebut relevan dengan pendekatan global. Analisis eliminasi kanker serviks WHO dan International Agency for Research on Cancer (IARC) menyebut negara dapat mempertimbangkan vaksinasi anak laki-laki apabila memungkinkan dan sumber daya tersedia, sepanjang langkah tersebut tidak mengalihkan sumber daya dari vaksinasi kelompok sasaran primer perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Analisis itu juga menunjukkan adanya konsekuensi biaya. Memasukkan anak laki-laki dapat memberikan tambahan manfaat kesehatan populasi, tetapi program untuk kedua jenis kelamin membutuhkan sumber daya lebih besar dan secara ekonomi dinilai kurang cost-effective dibandingkan strategi yang hanya menargetkan perempuan dengan asumsi jadwal dosis, cakupan, dan harga yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi tersebut membuat implementasi bertahap dapat dipahami sebagai upaya menyeimbangkan perluasan manfaat dengan kapasitas program. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan perbedaan waktu implementasi antarprovinsi tidak berkembang menjadi kesenjangan perlindungan berkepanjangan. Evaluasi tiga provinsi pertama akan penting untuk menentukan seberapa cepat program dapat diperluas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan lain berada pada komunikasi kepada orang tua. Savitri menilai tenaga kesehatan mempunyai posisi penting sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya ketika masyarakat mempertanyakan manfaat maupun keamanan vaksinasi HPV.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTenaga kesehatan merupakan ujung tombak dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat,\u201d kata Savitri di Jakarta, 14 Juli 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebutuhan komunikasi tersebut menjadi semakin penting karena perluasan sasaran dapat memunculkan pertanyaan mengapa anak laki-laki perlu menerima vaksin yang selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai vaksin pencegah kanker serviks. Edukasi perlu menjelaskan bahwa HPV dapat menginfeksi laki-laki dan perempuan, sementara pemberian vaksin pada usia muda dimaksudkan untuk membentuk perlindungan sebelum terjadi paparan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara nasional, penguatan imunisasi juga masih menghadapi persoalan ketimpangan akses. Estimasi WHO dan UNICEF yang diumumkan 21 Juli 2026 menunjukkan jumlah anak Indonesia yang belum menerima satu pun vaksin rutin memang turun dari sekitar 748.000 pada 2024 menjadi 657.000 pada 2025. Namun, ratusan ribu anak yang masih belum terjangkau menunjukkan bahwa perluasan jenis dan sasaran vaksin perlu berjalan bersamaan dengan upaya menemukan kelompok yang tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BIAS menyediakan jalur untuk menjangkau anak sekolah maupun anak usia sekolah yang tidak mengikuti pendidikan formal. Kementerian Kesehatan menyebut pelayanan bagi anak di luar sekolah dapat dilakukan melalui puskesmas, posyandu, fasilitas kesehatan, rumah singgah, panti sosial, hingga titik pelayanan lain tempat anak berkumpul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahap awal vaksinasi HPV anak laki-laki di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali karena itu akan menjadi ujian bukan hanya terhadap penerimaan masyarakat, tetapi juga kapasitas program menjaga cakupan tinggi pada anak perempuan sembari menambah kelompok penerima baru. Hasil implementasi 2026 akan menjadi pijakan penting sebelum perluasan ke provinsi berikutnya mulai 2027.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0Vaksin HPV anak laki-laki dimulai di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali pada BIAS 2026 sebelum diperluas bertahap<\/p>\n","protected":false},"author":254,"featured_media":332468,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uploader_id":254,"_verifier_id":254,"footnotes":""},"categories":[29100],"tags":[29118,29119,29120,29121,29122,29117],"class_list":["post-332465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-medika","tag-anak-laki-laki","tag-bias-2026","tag-dki-jakarta","tag-indri-yogyaswari","tag-kanker-serviks","tag-vaksin-hpv"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/users\/254"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=332465"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332465\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":332469,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332465\/revisions\/332469"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332468"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=332465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=332465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/labiba.id\/up\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=332465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}